Lewati ke konten
akukini

Semua Teman Sudah Punya Rencana Karier. Aku Kok Masih Bingung Mau Jadi Apa?

Semua Teman Sudah Punya Rencana Karier. Aku Kok Masih Bingung Mau Jadi Apa?

Pernah Merasa Semua Orang Sudah Tahu Masa Depannya, Kecuali Kamu?

Bayangkan kamu sedang membuka Instagram atau LinkedIn. Seorang teman baru saja mengumumkan bahwa ia diterima bekerja di perusahaan multinasional. Teman yang lain mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi. Ada juga yang mulai membangun bisnis sendiri, menjadi content creator, atau memamerkan pencapaian profesional pertamanya.

Kamu ikut senang melihat pencapaian mereka. Namun, setelah beberapa menit, muncul pertanyaan yang sulit diabaikan.

“Lalu, aku sendiri mau jadi apa?”

Kamu mungkin sudah lulus kuliah, sedang berada di semester akhir, baru mulai bekerja, atau justru sedang mempertimbangkan apakah jurusan yang kamu pilih benar-benar sesuai dengan dirimu. Kamu tahu bahwa masa depan perlu dipersiapkan, tetapi belum bisa menjawab satu pertanyaan sederhana: pekerjaan seperti apa yang sebenarnya cocok untukku?

Kamu mencoba membaca lowongan pekerjaan. Ada posisi yang terlihat menarik, tetapi persyaratannya membuatmu ragu. Kamu melihat teman yang sudah memiliki karier jelas, lalu mulai bertanya-tanya apakah kamu terlambat memulai. Kamu mungkin juga pernah mendengar nasihat seperti, “Ikuti passion kamu,” atau, “Cari pekerjaan yang sesuai dengan bakatmu.”

Masalahnya, bagaimana kalau kamu bahkan belum tahu apa passion dan bakatmu?

Kalau kamu sedang berada dalam situasi ini, ada satu hal yang perlu kamu pahami: belum mengetahui pilihan karier bukan berarti kamu tidak memiliki masa depan.

Kamu mungkin sedang berada dalam tahap eksplorasi—proses mengenali diri sendiri, memahami berbagai pilihan, dan mencari tahu lingkungan kerja seperti apa yang paling sesuai denganmu. Proses ini membutuhkan pengalaman, informasi, dan kesempatan untuk mencoba. Tidak semua orang memiliki akses atau waktu yang sama untuk menjalaninya.

Jadi, sebelum menganggap dirimu tertinggal, mari kita pahami mengapa kebingungan karier bisa terjadi dan apa yang bisa kamu lakukan untuk mulai menemukan arah.

1. Ternyata, Banyak Anak Muda Memang Belum Yakin dengan Masa Depannya

Kebingungan tentang karier bukan hanya pengalaman pribadi yang terjadi pada dirimu. Ada penelitian internasional yang menunjukkan bahwa ketidakpastian mengenai masa depan pekerjaan merupakan persoalan yang cukup luas.

Dalam laporan Teenage Career Uncertainty yang diterbitkan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2024, data PISA 2022 menunjukkan bahwa sekitar dua dari lima siswa berusia 15 tahun di negara-negara OECD belum memiliki rencana karier yang jelas. Proporsinya meningkat lebih dari separuh dibandingkan 2018.

Temuan tersebut memang mengacu pada siswa berusia 15 tahun di negara-negara OECD, bukan seluruh Gen Z atau khusus Gen Z Indonesia. Namun, penelitian ini memperlihatkan bahwa kesulitan membayangkan masa depan pekerjaan bukanlah fenomena yang hanya dialami oleh segelintir orang.

OECD juga menekankan bahwa perencanaan karier tidak cukup dilakukan dengan meminta anak muda menyebutkan satu profesi yang ingin mereka jalani. Mereka perlu memperoleh kesempatan untuk mengenali pekerjaan secara nyata, berbicara dengan orang yang menjalankannya, mencoba pengalaman kerja, serta memahami pendidikan dan keterampilan yang dibutuhkan.

Artinya, ada perbedaan antara tidak memiliki potensi dan belum memiliki informasi yang cukup untuk menentukan pilihan.

Misalnya, kamu merasa tidak tertarik bekerja di kantor karena membayangkan pekerjaan yang monoton. Namun, apakah kamu pernah mencoba bekerja dalam tim proyek, mengikuti kegiatan organisasi, atau menjalani magang di perusahaan dengan budaya kerja yang berbeda? Bisa jadi yang tidak kamu sukai bukan pekerjaan kantoran itu sendiri, melainkan jenis tugas atau lingkungan tertentu.

Sebaliknya, kamu mungkin tertarik menjadi pengusaha karena melihat kebebasan yang ditawarkan. Akan tetapi, kamu belum pernah mengalami tantangan mengelola arus kas, melayani pelanggan, atau mengambil keputusan ketika bisnis sedang mengalami kesulitan.

Tanpa pengalaman dan informasi yang cukup, pilihan karier sering kali dibentuk oleh asumsi. Kita memilih berdasarkan apa yang terlihat menarik dari luar, bukan berdasarkan pemahaman tentang pekerjaan tersebut maupun kecocokannya dengan diri sendiri.

Karena itu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kamu tidak punya arah. Mungkin kamu hanya perlu memperluas kesempatan untuk mengenal berbagai kemungkinan.

2. Media Sosial Bisa Membuatmu Merasa Tertinggal, Padahal Kamu Tidak Mengetahui Seluruh Cerita

Salah satu tantangan terbesar ketika mencari arah hidup adalah membandingkan perjalanan kita dengan perjalanan orang lain.

Media sosial membuat pencapaian orang lain mudah terlihat. Kamu bisa mengetahui siapa yang mendapat pekerjaan baru, siapa yang menerima promosi, siapa yang melanjutkan studi, dan siapa yang mulai menghasilkan uang dari bisnisnya.

Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: kita melihat hasil yang dibagikan, bukan keseluruhan proses yang mereka jalani.

Kamu melihat teman mendapatkan pekerjaan impian, tetapi tidak mengetahui berapa kali ia ditolak sebelumnya. Kamu melihat seseorang membangun bisnis, tetapi tidak selalu mengetahui dukungan keluarga, modal, jaringan, atau pengalaman yang dimilikinya. Kamu melihat seseorang tampak yakin terhadap masa depannya, tetapi tidak mengetahui apakah ia juga pernah mengalami keraguan.

Ketika pencapaian orang lain dijadikan ukuran untuk menilai diri sendiri, perbedaan perjalanan mudah terasa seperti kegagalan pribadi.

Penelitian akademik Indonesia juga mulai mengkaji hubungan antara perbandingan sosial dan kecemasan karier. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam ARMADA: Jurnal Penelitian Multidisiplin pada 2026 melibatkan 403 mahasiswa tingkat akhir berusia 20–25 tahun di Indonesia. Penelitian tersebut menemukan hubungan positif yang signifikan antara perbandingan sosial dan kecemasan karier. Dalam model penelitian itu, perbandingan sosial menjelaskan 32,4% variasi kecemasan karier.

Angka tersebut bukan berarti media sosial menyebabkan 32,4% kecemasan setiap mahasiswa, dan hasilnya tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh anak muda Indonesia. Namun, temuan tersebut memberi petunjuk bahwa kebiasaan menilai diri melalui pencapaian orang lain patut diperhatikan ketika kita sedang memikirkan masa depan.

Lalu, apakah kita harus berhenti menggunakan media sosial?

Tidak selalu. Yang lebih penting adalah mengubah cara kita menggunakannya.

Daripada menjadikan pencapaian teman sebagai bukti bahwa kamu tertinggal, gunakan informasi yang kamu temukan sebagai bahan untuk mengenali pilihan. Jika temanmu bekerja di bidang pemasaran digital dan terlihat menikmati pekerjaannya, kamu bisa mencari tahu seperti apa pekerjaan tersebut, keterampilan apa yang diperlukan, dan apakah aktivitasnya sesuai dengan minatmu.

Jika seseorang berhasil membangun bisnis, pelajari prosesnya, bukan hanya hasil akhirnya.

Pencapaian orang lain seharusnya menjadi sumber informasi, bukan alat untuk menghukum diri sendiri.

Kamu tidak harus memiliki jadwal hidup yang sama dengan orang lain untuk memiliki masa depan yang baik.

3. Mengapa Kita Merasa Harus Sudah Tahu Masa Depan Sejak Muda?

Ada banyak keputusan yang harus dihadapi anak muda dalam waktu yang relatif berdekatan: memilih jurusan, menyelesaikan kuliah, mencari pekerjaan pertama, menentukan apakah perlu melanjutkan studi, dan mulai mandiri secara finansial.

Tidak mengherankan jika sebagian orang merasa bahwa setiap keputusan akan menentukan seluruh masa depannya.

Ketika memilih jurusan kuliah, kamu mungkin berharap jurusan tersebut langsung membawamu ke pekerjaan yang tepat. Ketika mendapatkan pekerjaan pertama, kamu mungkin merasa harus bertahan karena takut dianggap tidak konsisten. Ketika menyadari bahwa pekerjaan tersebut tidak cocok, kamu mungkin merasa sudah membuat keputusan yang salah.

Padahal, karier bukan hanya satu keputusan yang dibuat sekali seumur hidup. Karier berkembang melalui rangkaian keputusan yang dipengaruhi oleh pengalaman, kemampuan, kebutuhan finansial, kesempatan, serta perubahan kondisi dunia kerja.

OECD, dalam laporan The State of Global Teenage Career Preparation yang diterbitkan pada 2025, menekankan pentingnya keterlibatan anak muda dalam aktivitas pengembangan karier. Aktivitas tersebut antara lain mengeksplorasi bidang pekerjaan, berdiskusi dengan orang yang bekerja di bidang terkait, mengikuti pengalaman kerja, dan memahami jalur pendidikan atau pelatihan yang diperlukan.

Pesan pentingnya bukan bahwa kamu harus segera menemukan satu pekerjaan yang akan kamu lakukan selamanya. Justru, kamu perlu mulai membangun pemahaman yang cukup agar keputusan berikutnya menjadi lebih terarah.

Kamu boleh belum tahu profesi yang paling cocok. Namun, kamu bisa mulai mencari tahu jenis aktivitas yang kamu nikmati, masalah yang ingin kamu selesaikan, dan keterampilan yang ingin kamu kembangkan.

Kamu juga boleh berubah pikiran setelah mendapatkan pengalaman baru.

Mungkin awalnya kamu ingin menjadi akuntan karena menyukai angka, tetapi kemudian menemukan bahwa kamu lebih menikmati analisis bisnis dan membantu perusahaan mengambil keputusan. Mungkin kamu memilih desain karena menyukai aspek visual, tetapi kemudian tertarik pada riset pengguna dan pengembangan produk.

Perubahan seperti itu tidak otomatis berarti kamu gagal menentukan pilihan. Bisa jadi kamu sedang memperoleh informasi baru tentang dirimu sendiri.

Tujuan awal perencanaan karier bukan memastikan seluruh hidupmu sejak sekarang, melainkan membuat langkah berikutnya menjadi lebih masuk akal.

4. Jangan Hanya Bertanya, “Aku Mau Jadi Apa?” Mulailah dengan Pertanyaan yang Lebih Mudah Dijawab

Salah satu alasan kita sulit menentukan karier adalah karena pertanyaannya terlalu besar.

“Aku mau menjadi apa dalam hidup ini?” terdengar seperti pertanyaan yang harus memiliki satu jawaban sempurna. Jika belum menemukan jawabannya, kita merasa belum siap bergerak.

Cobalah mengubah pertanyaannya.

Alih-alih langsung mencari profesi yang tepat, mulailah dengan mengamati dirimu melalui empat aspek berikut.

A. Aktivitas apa yang membuatmu tertarik?

Perhatikan aktivitas yang membuatmu ingin tahu lebih jauh, bahkan ketika tidak ada orang yang menyuruhmu.

Apakah kamu suka menyusun rencana, mengatur acara, membuat konten, memecahkan masalah, berdiskusi, menganalisis informasi, atau membantu orang lain memahami sesuatu?

Tidak semua minat harus berupa hobi yang menghasilkan uang. Minat juga bisa terlihat dari jenis masalah yang membuatmu penasaran.

Misalnya, kamu senang mengamati mengapa sebuah merek populer di kalangan anak muda. Ketertarikan ini dapat menjadi titik awal untuk mengeksplorasi pemasaran, riset konsumen, atau strategi merek.

Namun, ingat bahwa menyukai suatu aktivitas belum tentu berarti kamu akan menyukai seluruh pekerjaan yang berkaitan dengannya. Jadikan minat sebagai petunjuk awal, bukan keputusan akhir.

B. Hal apa yang relatif mudah kamu pelajari?

Pikirkan pengalaman ketika kamu mempelajari sesuatu lebih cepat, membantu teman menyelesaikan masalah, atau menghasilkan sesuatu yang mendapat respons positif.

Mungkin kamu cukup mudah memahami angka dan pola. Mungkin kamu pandai merangkum informasi yang rumit. Bisa jadi kamu mampu membuat orang lain merasa nyaman saat berdiskusi, atau terbiasa mengorganisasi pekerjaan kelompok.

Kekuatan tidak selalu berupa kemampuan luar biasa. Terkadang, kekuatanmu justru muncul dalam aktivitas sehari-hari yang kamu anggap biasa karena sudah terbiasa melakukannya.

Tetapi jangan langsung memberi label bahwa kamu berbakat atau tidak berbakat hanya berdasarkan satu pengalaman. Kemampuan dapat berkembang melalui latihan, bimbingan, dan pengalaman yang berulang.

C. Lingkungan kerja seperti apa yang membuatmu nyaman?

Dua orang bisa memiliki kemampuan yang sama, tetapi menikmati lingkungan kerja yang berbeda.

Ada orang yang menyukai struktur dan kejelasan tugas. Ada yang menikmati pekerjaan dengan variasi tinggi. Ada yang bersemangat bekerja dalam tim, sementara yang lain lebih nyaman berkonsentrasi secara mandiri.

Kamu mungkin menyukai pekerjaan kreatif, tetapi tidak nyaman dengan tenggat yang terus berubah. Kamu mungkin senang membantu orang, tetapi lebih cocok melakukannya melalui analisis dan perancangan program daripada interaksi langsung sepanjang hari.

Karena itu, jangan hanya mencari tahu pekerjaan apa yang ingin kamu lakukan. Cari tahu juga kondisi yang memungkinkanmu bekerja dengan baik.

D. Hal apa yang penting bagimu dalam bekerja?

Bagi sebagian orang, prioritas utama adalah kestabilan penghasilan. Bagi yang lain, kesempatan belajar, fleksibilitas, dampak sosial, kreativitas, atau peluang membangun bisnis mungkin lebih penting.

Tidak ada satu kombinasi prioritas yang berlaku untuk semua orang.

Kondisi hidup juga memengaruhi pilihan. Seseorang yang perlu membantu keluarga secara finansial mungkin membutuhkan pekerjaan dengan penghasilan stabil terlebih dahulu. Orang lain mungkin memiliki kesempatan mengambil magang untuk mengeksplorasi bidang yang diminati.

Mengenali prioritas bukan berarti membatasi impian. Justru, hal ini membantu kamu membuat pilihan yang realistis tanpa kehilangan arah jangka panjang.

Setelah menjawab keempat pertanyaan tersebut, kamu akan memiliki gambaran awal tentang aktivitas, kekuatan, lingkungan, dan nilai kerja yang perlu dipertimbangkan ketika mengeksplorasi pilihan karier.

5. Lima Langkah Praktis untuk Mulai Menemukan Arah Karier

Kamu tidak perlu menunggu sampai benar-benar yakin untuk memulai. Cobalah lima langkah berikut selama beberapa minggu.

Langkah 1: Buat daftar pengalaman, bukan hanya daftar cita-cita

Tuliskan lima pengalaman yang pernah kamu nikmati atau anggap bermakna. Pengalaman tersebut bisa berasal dari sekolah, kuliah, organisasi, kegiatan sukarela, proyek pribadi, pekerjaan paruh waktu, atau kegiatan di rumah.

Untuk setiap pengalaman, tanyakan: bagian mana yang paling kamu sukai?

Misalnya, ketika menjadi panitia acara, kamu mungkin menikmati menyusun jadwal dan memastikan semuanya berjalan tepat waktu. Dalam pengalaman lain, kamu mungkin paling menikmati membuat konsep acara atau berkomunikasi dengan peserta.

Walaupun keduanya terjadi dalam satu kegiatan, aktivitas yang kamu nikmati menunjukkan jenis pekerjaan yang berbeda.

Fokuslah pada aktivitas konkretnya. Jawaban seperti “aku suka organisasi” masih terlalu luas. Jawaban seperti “aku suka mengatur tugas dan memastikan setiap orang mengetahui tanggung jawabnya” jauh lebih berguna.

Langkah 2: Cari pola dari pengalamanmu

Setelah membuat daftar, perhatikan apakah ada aktivitas yang muncul berulang kali.

Apakah kamu sering mengambil peran sebagai pemecah masalah? Apakah kamu lebih sering membuat ide, menganalisis data, mengatur pekerjaan, atau menghubungkan orang?

Pola tersebut dapat membantu menyusun beberapa hipotesis tentang kekuatan dan minatmu.

Misalnya, jika kamu menikmati mengatur proyek, menyusun jadwal, dan memastikan pekerjaan selesai, kamu dapat mengeksplorasi bidang manajemen proyek, operasional, atau koordinasi program.

Ini bukan berarti kamu harus langsung memilih salah satu profesi tersebut. Anggap saja sebagai daftar kemungkinan yang layak diperiksa lebih lanjut.

Langkah 3: Pelajari pekerjaan yang sebenarnya, bukan hanya nama profesinya

Pilih dua atau tiga bidang yang membuatmu penasaran. Cari tahu kegiatan sehari-hari, keterampilan yang diperlukan, tantangan umum, dan jalur untuk memulainya.

Kamu bisa membaca deskripsi pekerjaan, mengikuti diskusi profesional, menghadiri acara karier, atau berbicara dengan orang yang bekerja di bidang tersebut.

Tanyakan, misalnya, “Apa yang paling sering kamu kerjakan dalam satu hari?”, “Bagian apa yang paling menantang?”, dan “Keterampilan apa yang paling penting untuk pemula?”

Langkah ini membantu membedakan antara gambaran pekerjaan yang terlihat menarik dan kenyataan pekerjaan sehari-hari.

Langkah 4: Coba dalam skala kecil

Kamu tidak harus langsung mengundurkan diri, mengganti jurusan, atau mengeluarkan banyak uang untuk mengetahui apakah suatu bidang cocok.

Jika tertarik pada pemasaran, cobalah membuat rencana konten untuk proyek pribadi. Jika penasaran dengan analisis bisnis, pelajari data sederhana dan buat kesimpulan. Jika tertarik pada dunia pendidikan, coba menjadi relawan atau membantu teman belajar.

Pengalaman kecil dapat memberikan informasi yang tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca.

Setelah mencoba, catat tiga hal: apakah aktivitasnya menarik, bagian mana yang terasa menantang, dan apakah kamu ingin mempelajarinya lebih jauh.

Jangan menilai kecocokan hanya berdasarkan apakah percobaan pertama terasa mudah. Aktivitas baru memang bisa terasa sulit sebelum kamu menguasai keterampilannya.

Langkah 5: Tentukan satu eksperimen karier untuk 30 hari ke depan

Daripada memaksa diri menentukan karier seumur hidup, tentukan satu langkah yang bisa kamu selesaikan dalam 30 hari.

Contohnya, berbicara dengan dua profesional dari bidang berbeda, mengikuti kursus pengantar, membuat satu proyek portofolio, atau mencoba magang jika memungkinkan.

Di akhir periode, evaluasi apa yang kamu pelajari tentang diri sendiri dan bidang tersebut.

Dengan cara ini, kebingungan berubah menjadi proses yang dapat dikelola. Kamu tidak lagi hanya memikirkan masa depan, tetapi mengumpulkan bukti untuk membantu mengambil keputusan.

6. Bagaimana Jika Setelah Mencoba, Kamu Masih Bingung?

Tidak semua orang langsung menemukan jawabannya setelah melakukan eksplorasi. Bisa jadi kamu menemukan beberapa bidang yang sama-sama menarik. Bisa juga kamu merasa belum memiliki keterampilan yang cukup untuk menilai apakah suatu pekerjaan cocok.

Itu bukan alasan untuk kembali menyalahkan diri sendiri.

Ada perbedaan antara belum menemukan pilihan yang cocok dan tidak memiliki pilihan sama sekali. Jika kamu memiliki beberapa bidang yang menarik, langkah berikutnya adalah membandingkannya berdasarkan informasi yang lebih konkret.

Misalnya, buat tabel sederhana berisi tiga pilihan karier. Bandingkan aktivitas sehari-hari, keterampilan yang diperlukan, kesempatan belajar, prospek penghasilan, lingkungan kerja, dan kesesuaiannya dengan prioritasmu saat ini.

Jika masih ragu, cari pengalaman tambahan yang paling mungkin membantumu membedakan pilihan tersebut.

Di sisi lain, jika kamu merasa tidak mengetahui apa pun yang kamu sukai atau kuasai, mulailah dari aktivitas yang paling mudah kamu coba. Kamu juga dapat meminta masukan dari orang yang mengenalmu dalam konteks berbeda—teman, dosen, mentor, atau rekan kerja.

Masukan mereka dapat menjadi sumber informasi, tetapi bukan keputusan final tentang siapa dirimu. Orang lain mungkin melihat kekuatan yang belum kamu sadari, tetapi kamu tetap perlu menguji apakah kekuatan tersebut sesuai dengan minat dan tujuanmu.

Kamu juga bisa menggunakan asesmen minat dan potensi sebagai salah satu alat bantu. Hasil asesmen dapat memberikan bahasa dan struktur untuk memahami kecenderungan diri, serta membantu menghasilkan beberapa pilihan yang layak dieksplorasi.

Namun, hasil tes bukan vonis tentang pekerjaan yang boleh atau tidak boleh kamu ambil. Kualitas interpretasi, pengalaman nyata, keterampilan, kebutuhan hidup, dan kondisi pasar kerja tetap perlu dipertimbangkan.

OECD menegaskan bahwa pengembangan karier yang efektif melibatkan proses mengenali diri sekaligus memahami dunia kerja. Keduanya perlu berjalan bersama.

Jika kecemasan mengenai masa depan mulai mengganggu tidur, kegiatan sehari-hari, atau kemampuanmu menjalankan tanggung jawab, pertimbangkan juga untuk berbicara dengan konselor atau tenaga profesional yang sesuai. Kamu tidak harus menghadapi semua tekanan itu sendirian.

7. Kamu Tidak Harus Menjadi Orang yang Sama dengan Temanmu untuk Memiliki Masa Depan yang Baik

Mungkin saat ini temanmu sudah bekerja, sementara kamu masih mencari bidang yang tepat. Mungkin orang lain sudah memiliki penghasilan sendiri, sedangkan kamu masih bergantung pada keluarga. Mungkin kamu sudah mencoba beberapa pilihan dan belum menemukan yang terasa cocok.

Perbedaan itu nyata, tetapi tidak otomatis berarti kamu gagal.

Setiap orang memulai dengan kondisi, dukungan, sumber daya, pengalaman, dan kesempatan yang berbeda. Membandingkan hasil akhir tanpa memahami perbedaan tersebut dapat menghasilkan penilaian yang tidak adil terhadap diri sendiri.

Pada saat yang sama, kamu tetap perlu mengambil tanggung jawab atas langkah berikutnya. Memahami bahwa kebingungan itu wajar bukan berarti kamu harus terus menunggu sampai merasa yakin sepenuhnya.

Laporan OECD tahun 2025 menunjukkan bahwa anak muda yang lebih aktif mengikuti kegiatan pengembangan karier cenderung memiliki tingkat ketidakpastian karier yang lebih rendah. Temuan ini tidak menjamin bahwa setiap aktivitas akan langsung menghasilkan pekerjaan yang tepat, tetapi mendukung pentingnya eksplorasi yang nyata dan terarah.

Kamu tidak harus menyelesaikan semua pertanyaan hari ini. Kamu hanya perlu mulai mengumpulkan informasi yang dapat membantumu membuat keputusan lebih baik.

Mungkin hari ini kamu belum tahu pekerjaan apa yang paling cocok. Namun, kamu bisa mulai mengetahui aktivitas apa yang membuatmu tertarik, kekuatan apa yang ingin dikembangkan, dan pengalaman apa yang perlu dicoba.

Besok, kamu bisa mengambil satu langkah kecil untuk menguji dugaan tersebut.

Dan ketika memperoleh informasi baru, kamu boleh memperbaiki arahmu.

Karier yang baik tidak selalu dimulai dari jawaban yang sempurna. Sering kali, karier dimulai dari keberanian untuk mengenali diri sendiri, mencoba sesuatu yang baru, dan belajar dari pengalaman.

Jadi, jika hari ini kamu masih bertanya, “Aku sebenarnya mau jadi apa?”, jangan buru-buru menganggap dirimu tertinggal.

Mulailah dengan pertanyaan yang lebih membantu: “Apa yang bisa aku pelajari tentang diriku minggu ini?”

Karena kamu tidak harus mengetahui seluruh perjalanan untuk mulai melangkah.

Mulai Kenali Potensimu Bersama Akukini

Setiap orang memiliki kombinasi minat, kekuatan, keterampilan, dan prioritas yang berbeda. Mengenalinya dapat menjadi langkah awal untuk mengeksplorasi pilihan pendidikan, pekerjaan, dan pengembangan diri yang lebih sesuai.

Akukini hadir untuk membantu kamu memulai proses mengenali diri dan mempertimbangkan pilihan karier secara lebih terarah.

Tidak perlu menunggu sampai kamu benar-benar yakin tentang masa depanmu. Mulailah dengan memahami dirimu hari ini, lalu gunakan pengetahuan tersebut untuk menentukan langkah berikutnya.

Kamu tidak harus langsung tahu akan menjadi apa. Kamu hanya perlu mulai mengenali siapa dirimu dan kemungkinan apa yang ingin kamu jelajahi.

Kunjungi Akukini.com, mulai perjalanan mengenali potensimu, dan jadilah anggota untuk mengeksplorasi langkah berikutnya.

Referensi

Catatan editorial: Angka dan kesimpulan penelitian dalam artikel ini merujuk pada populasi serta metode studi masing-masing. Temuan dari siswa negara OECD atau sampel mahasiswa tertentu tidak boleh dianggap mewakili seluruh Gen Z Indonesia.

(OMDK, Okt26)